Refleksi Hari Guru: Revolusi Guru Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas dan Pemerataan Pendidikan Abad 21”

Oleh: Dr. Imam Satibi, M.Pd (Rektor IAINU Kebumen)

Kehadiran guru di dunia ini tidak cukup hanya disanjung sebagai profesi mulia dan pahlawan tanpa tanda jasa serta segudang sebutan kehormatan lainya. Sebaliknya demi kemajuan dan established segala stereotip julukan positif guru maka guru perlu di support baik dari sisi profesi maupun kelayakan hidupnya.

Pergeseran zaman baik akibat teknologi dan sains terutama berkaitan issue besar dunia adalah SDGs (sustainable development Goals) yang merupakan komitmen bersama dunia yang tergabung dalam PBB pada tahun 2015.

Salah satu point besar dari 17 item kesepakatan dunia diantaranya adalah quality education atau mutu pendidikan. Bagaimana menyelenggarakan pendidikan berkualitas untuk semua orang (education for all) menjadi tanggungjawab besar bagi profesi guru. Di planet bumi ini harus ada jaminan semua penduduk di manapun berada untuk mendapatkan fasilitas pendidikan atau sekolah. Hal ini lah yang masih menjadi tantangan besar bagi bangsa Indonesia yang masih memiliki indek IPM dan HDI nya masih rendah dibandingkan negara asia lainya.

Rendahnya tenaga ahli yang tersedia di Indonesia memperkuat kesenjangan pendidikan Indonesia di bandingkan Singapore, Malaysia, Brunai, Thailand dan Pilipina. Hal ini tentunya sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan ekonomi masyarakat.

Melalui kesempatan ini Hari Guru 25 November 2018 yang kita rayakan menjadi sangat urgent dan determinant untuk mendorong pendidikan di Indonesia melakui strengthening(penguatan) guru secara multi. Artinya harus ada revolusi guru untuk dijadikan garda terdepan dalam menentukan kualitas dan pemerataan pendidikan sampai pendidikan tingkat tinggi.

Contoh kasus adanya marginalisasi pendidikan bagi perempuan dan anak berkebutuhan istimewa atau disabilitas masih menjadi fenomena disparitas pemerataan pendidikan yg sangat mencolok. Dengan demikian perlu ada dukungan dari daerah adanya perlakuan inklusi untuk anak difabel dan perempuan.

Selain itu tantangan issue yg lain bagi guru adalah munculnya revolusi industri 4.0. Guru harus di install kembali agar dapat menggunakan kemajuan teknologi yang berbasis artificial intelegence atau kecerdasan buatan. Selain itu masifnya penggunaan teknologi informasi secara global harus menjadi perubahan strategi pembelajaran di sekolah.

Guru harus mulai melirik sistem blended learning atau juga total ilearning seperti daring (dalam jaringan) learning.
Dalam perlakuan pelayanan pada siswa guru harus dapat menempatkan anak sebagaimana customer atau pelanggan. Manajemen pelayanan berbasis student satisfaction (kepuasaan siswa) harus menjadi pilihan wajib dalam memberlakukaan anak. Istilah guru galak, killer dan guru otoriter harus dikubur dalam dalam. Pendidikan yang ramah dan bersahaja menjadi suatu hal yang tidak bisa ditinggalkan. Semoga manfaat untuk kita semua.

Editor: Khas

sumber kebumenpos